7 Penyebab Pembukuan Resto Berantakan

Persiapan dalam membuka usaha resto tidak melulu tentang konsep design layout, menu makanan & minuman apa saja yang akan dijual serta segmentasi pasar saja. Sisi keuangan tidak boleh luput dari persiapan awal dalam membuka usaha resto. Darimana modal berasal, bagaimana metode pengembalian modal jika modal tersebut berasal dari pinjaman kepada pihak lain, berapa budget untuk pengadaan peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan, serta perhitungan cost of food per menu makanan/minuman sebagai acuan untuk menentukan harga jual serta untuk mengetahui apakah menu makanan/minuman tersebut akan mendatangkan keuntungan atau justru kerugianBerikut 7 sebab pembukuan usaha resto Anda berantakann :

1. Tidak bisa membedakan antara pengeluaran untuk investasi dan pengeluaran untuk biaya
Ingat, tidak semua uang yang dikeluarkan harus dicatat sebagai biaya. Baca pembahasan definisi biaya di artikel ini. Pengeluaran untuk investasi akan dicatat sebagai aset usaha yang tidak mengurangi untung-rugi usaha (tidak masuk dalam komponen laporan laba rugi usaha)

2. Seluruh pembelian bahan makanan/minuman dicatat/dianggap sebagai biaya
Banyak pengusaha resto yang tidak memiliki latar belakang keuangan, mencatat langsung seluruh pengeluaran belanja harian kedalam unsur biaya pada saat itu juga. Jika pada bulan tersebut pengeluaran belanja sedang tinggi, maka keuntungan resto menjadi kecil. Karena seluruh biaya sudah diakui/dicatat didepan, walaupun beberapa barang/bahan makanan/minuman yang dibelanjakan tersebut baru habis terpakai dibulan kedepannya.
Sebaliknya, jika bulan tersebut pengeluaran belanja sedang turun makan keuntungan resto menjadi terlihat besar. Laporan laba rugi usaha menjadi fluktuatif jika dilihat bulan per bulan.

3. Tidak mencatat mutasi persediaan
Tidak semua bahan makanan/minuman harus dicatat pada saat barang tersebut terpakai. Untuk barang-barang yang sulit dihitung seperti bumbu dapur, sayuran, sirup dll, pencatatan pengeluaran dilakukan secara periodik saja. Misal; satu minggu sekali atau satu bulan sekali. Namun untuk bahan-bahan yang mudah dihitung, pengeluarannya harus dicatat setiap hari. Seperti pemakaian bahan-bahan kemasan, minyak goreng kemasan, susu kemasan, mie instan dll.

4. Tidak mencatat pemakaian barang untuk kepentingan internal/pemakaian sendiri
Adakalanya bahan-bahan makanan/minuman dipakai untuk kebutuhan internal seperti untuk kepentingan test menu makanan/minuman baru atau dipakai untuk bazzar di luar lokasi restoran. Pemakaian seperti ini tetap harus dicatat sebagai pengeluaran barang dan diakui sebagai biaya restoran.

5. Tidak mencatat pembelian oleh karyawan/owner
Pembelian menu makanan/minuman oleh karyawan atau yang diperuntukkan untuk kebutuhan internal/manajemen seperti untuk keperluan meeting atau compliment harus dicatat sebagai penjualan yang metode pembayarannya juga harus diatur, apakah dicatat sebagai piutang karyawan/owner atau dianggap sebagai biaya. Pemakaian bahan makanan/minumannya juga harus dicatat sebagai biaya.

6. Tidak ada perhitungan cost of food
Bagaimana menentukan harga jual sebuah menu makanan/minuman jika biaya pembuatannya tidak bisa diketahui ? Bisa jadi biaya pembuatan lebih besar dari harga jual yang sudah kita tentukan.

7. Tidak memiliki petty cash
Keperluan belanja harian seharusnya bersumber dari dana petty cash yang dipegang dan dikelola oleh bagian keuangan, bukan diambil dari laci kasir. Alasan mengapa demikian, supaya pertanggungjawaban petugas kasir menjadi jelas serta tidak semua pengeluaran resto akan bersifat urgent.
Jangan sampai muncul anggapan “pengunjung ramai tapi uang di kasir kok hanya sedikit”.

Semoga setelah membaca artikel ini, pengusaha resto bisa melek pembukuan dan mulai menyadari pentingnya pembukuan sebagai salah satu dasar mengambil keputusan bisnis selanjutnya.

Baca juga :

9 Rahasia mengapa resto besar lebih cepat berkembang


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *