Pengertian Hutang Usaha




Hutang Usaha adalah bagian dari kewajiban lancar yang berasal dari operasional perusahaan. Hutang usaha merupakan hutang kepada seseorang atau perusahaan atas barang dan jasa yang sudah diterima tetapi belum dibayar. Hutang usaha berkaitan dengan pembelian barang atau jasa secara kredit.

Bagi perusahaan yang masih menjalankan pencatatan transaksi harian secara manual, akan sulit mencatat dan mengingat supplier mana saja yang masih memiliki saldo hutang (belum membayar/melunasi hutang ke supplier). Sering Kami temukan pelanggan-pelanggan yang masih menggunakan metode pencatatan hutang secara manual menggunakan Ms. Excel. Pada saat migrasi beralih menggunakan program, ditemukan masih banyak saldo hutang supplier yang sudah jatuh tempo tapi belum dibayarkan.

Berbeda dengan perusahaan yang sudah menggunakan alat bantu pencatatan berupa program keuangan dan bisnis. Pada saat terjadi pembelian kredit, pengguna cukup melakukan input transaksi pembelian kredit. Secara otomatis, program akan membentuk jurnal pembelian, daftar hutang serta laporan mutasi hutang per supplier.

Keuntungan menggunakan program keuangan dan bisnis dalam mengelola hutang adalah sebagai berikut :

  1. Transaksi pembelian jasa baik yang bersifat kredit maupun tunai akan secara otomatis membentuk jurnal dan laporan pembelian per supplier
  2. Transaksi pembelian barang baik yang bersifat kredit maupun tunai akan secara otomatis membentuk jurnal, laporan pembelian barang per supplier dan membentuk laporan stok/mutasi barang
  3. Transaksi pembelian yang bersifat kredit akan secara otomatis membentuk laporan daftar hutang dan mutasi hutang
  4. Seluruh informasi pembelian akan mudah diakses secara realtime oleh bagian-bagian terkait, seperti bagian pembelian dan bagian keuangan (kasir) sebagai bagian yang mencatat pengeluaran atas pembayaran hutang-hutang perusahaan.
  5. Adanya analisa dan remider umur hutang yang memudahkan perusahaan menganalisa berapa jumlah hutang yang telah jatuh tempo yang harus segera dibayar.
  6. Staf pembelian tidak lagi membuat buku catatan manual yang nantinya harus diberikan kepada bagian-bagian terkait seperti; kebagian pembelian untuk membuat rekap hutang yang harus dibayar, kebagian keuangan untuk mencatat pengeluaran dana apabila terjadi pembayaran hutang dan kebagian akunting untuk membuat jurnal dan buku besar



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *